Berita Arsitektur Jepang – Seni penghubung kayu Jepang berasal dari abad ketujuh dan merupakan teknik kerajinan yang melibatkan sambungan kayu rumit yang saling mengunci membentuk ikatan tanpa menggunakan paku, sekrup, atau bahan perekat seperti Tsuginote Tea House “Rumah Teh Tsuginote“. Penggunaan praktis dari teknik kerajinan kayu ini, yang dikenal sebagai tsugite, telah berkurang seiring berjalannya waktu karena kerumitannya. Namun, tim perancang setelah melakukan penelitian selama 3 tahun, telah mengungkapkan teknik pembangunan yang menggabungkan pencetakan 3D dengan seni penghubung kayu.
Simak Juga : 7 Destinasi Stasiun Kereta di Jepang dengan Pemandangan Spektakuler
Meskipun sudah berjalan tiga tahun dalam proses pembuatannya, Rumah Teh Tsuginote hanya membutuhkan tiga jam untuk dibangun saat dipasang sementara di Kuil Kanazawa awal tahun ini. Karya ini adalah hasil dari kreativitas direktur Kei Atsumi dan arsitek berbasis Paris, Nicholas Préaud. Mereka menciptakan sekitar 1000 potongan 3D cetak unik bergelombang ganda dari serpihan kayu yang tidak terpakai. Potongan-potongan tersebut dirakit melalui seni penghubung kayu yang saling mengunci; tanpa menggunakan sekrup, baut, atau bahan perekat.
Yang kuno dan futuristik sering kali dibandingkan satu sama lain, namun proyek ini adalah contoh bagus bagaimana teknologi digital dapat mempromosikan dan bahkan memperluas praktik-praktik tradisional. Bahkan nama rumah teh ini, tsuginote, yang dalam bahasa Jepang dapat diartikan sebagai “tangan berikutnya”, merupakan penghormatan terhadap kata dalam bahasa Jepang untuk seni penghubung kayu: tsugite.
Meskipun Rumah Teh Tsuginote sudah dibongkar, tim perancang saat ini sedang mengembangkan ide asli mereka dan merancang rumah-rumah mikro. Anda dapat mengikuti perkembangan Atsumi dan Préaud di Instagram.
sumber : spoon-tamago.com
0 Comments