Urban Legend | ARTFORIA

Urban Legend

artforia.com

Yurei Sosok Hantu Bagi Masyarakat Jepang

Seni Budaya Jepang – Setiap negara pasti memiliki sebuah kisah-kisah misterius yang menyeramkan, di Jepang pun juga seperti itu dimana Yurei sebutan hantu dalam bahasa Jepang merupakan sebuah sosok yang menyeramkan dan memiliki banyak kisahnya di negara ini, Menurut kepercayaan masyarakat Jepang, manusia memiliki jiwa yang ada didalam tubuh dan disebut dengan reikon (霊魂). Ketika seseorang meninggal maka reikon akan meninggalkan jasad dan memasuki tempat penyucian, tempat mereka menunggu selama upacara pemakaman dan pasacapemakaman dilaksanakan dengan layak, agar mereka dapat berkumpul dengan para leluhur. Jika ritual dilaksanakan dengan benar, maka reikon dipercaya sebagai pelindung keluarganya yang masih hidup dan akan kembali tiap tahun di bulan Agustus saat hari raya Obon untuk menerima ungkapan terima kasih.

Simak Juga : Kisah Legenda Terkenal Yamata No Orochi

artforia.comCerita hantu adalah topik umum yang cukup populer di kalangan masyarakat Jepang. Yurei biasanya digambarkan sebagai roh yang tidak dapat beralih ke akhirat karena beberapa ketidakadilan atau hasrat seperti balas dendam, cinta, kecemburuan, kebencian atau kesedihan. Dalam beberapa kasus, yurei tetap terbebani karena beberapa tugas yang tidak terpenuhi. Misalnya, salah satu hantu yang cukup terkenal di Jepang yaitu Ubume yang merupakan sesosok ibu yang meninggal saat melahirkan yang tetap mengawasi anaknya, sering memberikan permen kepada anak-anak kecil.

artforia.comBudaya Jepang yang memang masih sangat kental dan tradisional membuat kehadiran hantu sering dianggap serius di Jepang. Seoerti misalnya, hantu disalahkan ketika gempa bumi, tsunami, topan, kebakaran, kegagalan panen, epidemi dan kematian yang tidak dapat dijelaskan. Dalam beberapa kasus cukup banyak orang kaya menghabiskan sejumlah besar uang hanya untuk membangun kuil dan tempat suci demi menghilangkan unsur-unsur jahat Yurei pada sebuah lokasi. Terkenalnya kisah hantu juga membuat industri entertainment di Jepang maju pesat dengan populernya beberapa film horror Jepang seperti The Ring (Sadako), The Grudge (Ju On), dan masih banyak lagi tentunya film horror Jepang yang pernah tampil di manca negara.

artforia.comSama seperti hantu-hantu pada negara lain dimana tidak semua hantu Jepang bersifat pendendam atau kejam tetapi juga ada yang berkarakter sedih yang ditakdirkan untuk selamanya memikirkan ketidakadilan masa lalu. Misalnya, ada cerita hantu yang berhubungan dengan Kastil Himeji tentang seorang gadis pelayan bernama Okiku yang menolak kisah romantis master samurainya dengan wanita lain. Suatu ketika tuannya menuduh dirinya telah menghilangkan satu dari sepuluh piring yang tak ternilai harganya dan melemparkannya pelayanan wanita tersebut ke sumur sampai kematiannya. Hantu Himeji Castle adalah roh Okiku yang dikatakan menghitung sembilan piring berkali-kali di samping sumur tua.

Seni Budaya Jepang | Artforia.com

Mitologi Jepang

Seni Budaya Jepang | Artforia.com

Seni Budaya Jepang – Kita mengetahui bila setiap negara atau wilayah pasti memiliki sebuah sejarah misteri ataupun hal-hal kisah tentang para dewa, bukan hanya Yunani ataupun eropa utara saja yang memiliki sejarah-sejarah dewa yang menarik tetapi Jepang juga memilikinya, dalam bahasa Jepang artinya adalah Shinwa yang berarti “kisah mengenai para dewa.” Mitologi Jepang merupakan gabungan tema-tema pribumi dan yang berasal dari daratan Asia Timur, dan dipengaruhi oleh ajaran Buddhism dan Taoism. Mite Jepang pada umumnya agak tenang. Di dalamnya memang ada dewa penipu (trickster deity), tetapi tidak ada dewa yang memanifestasikan kejahatan. Sifat kompromiatis lebih banyak mendasari mitologi Jepang dibandingkan sifat konfrontatif.

BACA JUGA: LEGENDA SAKAKI, POHON SUCI AGAMA SHINTO

Jepang memang dikenal sebagai negara yang memiliki sejarah-sejarah mitos cukup banyak jumlah mitos serta dewa-dewa yang ada pada sejarah mitologi Jepang sangatlah banyak dan tentunya sangat menarik untuk diketahui, karena banyaknya orang luar Jepang serta warga Jepang sendiri yang antusias dengan sejarah mitologi Jepang ini maka tidak heran cukup banyak film serta game yang menggunakan unsur mitologi ini sebagai isinya, Mite Jepang yang dikisahkan dalam Kojiki dan Nihon Shoki terbagi menjadi tiga siklus. Siklus pertama adalah Siklus Takamagahara (dataran tinggi di surga), mengisahkan tentang munculnya para dewa, dan kisah tentang penciptaan surga dan dunia. Penguasa Takamagahara adalah dewi yang bernama Amaterasu Omikami. Selanjutnya, siklus yang kedua adalah Siklus Izumo (sekarang menjadi Prefektur Shimane), daerah di mana dewa Susanoo no Mikoto turun dari Takamagahara (keturunannya bernama Ookuni no Mikoto menguasai daerah ini, dan kemudian menyerahkannya kepada dewi Amaterasu Omikami). Dan yang ketiga yaitu Siklus Tsukushi (sekarang Pulau Kyushu, daerah di mana Ninigi no Mikoto, cucu laki-laki Amaterasu Omikami, turun menguasai wilayah Ashihara no Nakatsukuni (tanah Jepang, yang juga disebut sebagai Utsushi no Kuni atau tanah yang dihotmati, dan dari sanalah cicit dari Ninigi, kaisar legendaris Jinmu, meninggalkan daerah itu menuju Yamato (sekarang Prefektur Nara).

Seni Budaya Jepang | Artforia.comSeni Budaya Jepang | Artforia.comSeni Budaya Jepang | Artforia.com

Bagi kalian pecinta game ataupun film Jepang pastinya telah banyak menjumpainya character-character yang mengambil unsur dari mitologi ini dan salah satunya adalah anime terkenal Naruto yang memang juga menggunakan unsur mitologi Jepang, bila masih penasaran anda bisa telurusi website-website sejarah Jepang yang telah banyak beredar.

artforia.com

Patung Pembawa Keberuntungan Maneki Neko

Artforia – Pernahkah Anda merasa penasaran pada boneka kucing emas yang tangannya mengayun atas bawah yang sering Anda temukan di restoran atau toko toko milik orang Asia? Berikut ini adalah berbagai cerita menarik di balik boneka tersebut. Kalau kalian pernah mengunjungi restoran China atau Jepang, supermarket yang menjual produk Asia, atau toko-toko yang biasanya ada di Chinatown, mungkin kalian akan sering melihat boneka kucing kecil tergeletak di sebelah kasir. Boneka kucing kecil ini di sebut sebagai kucing pembawa keburuntungan, dan konon katanya sangat terkenal di budaya Jepang dan China. Boneka ini dianggap sebagai suatu jimat yang dipercaya mampu menyerap rezeki dan keberuntungan untuk sang pemilik. Karena itulah boneka ini akan sering di temui di toko-toko, tempat makan, dan tempat bisnis lainnya.

Yang menarik, konon ada mitos tentang gerakan tangan patung kucing itu . Saat tangan sebelah kiri diangkat, ini menandakan bahwa hal ini akan menarik pelanggan untuk datang. Bila yang kanan diangkat, ia akan mengundang rezeki dan uang. Apabila kedua cakarnya diangkat, ini berarti boneka kucing tersebut sedang meminta perlindungan. Begitu pula untuk warnanya, konon ada makna tersendiri.

Warna Calico ( krem): kombinasi warna tradisional, dianggap paling membawa keberuntungan.

warna Putih: kebahagiaan, kesucian, dan hal hal positif untuk datang.

warna Emas: kekayaan dan kemakmuran.

warna Hitam: menyangkal aura jahat.

warna Merah: berhasil di hubungan antara teman dan cinta dan

warna Hijau: kesehatan yang gemilang.

Maneki Neko juga mengenakan dan membawa aksesoris seperti  kain alas dada, kalung leher, dan lonceng. Konon , hal ini karena pada masa Edo, para juragan kaya banyak yang mendandani kucing peliharaannya  seperti itu. selain itu, ada juga sebuah lonceng yang diikatkan di kalung lehernya supaya pemiliknya tahu keberadaan kucingnya jika hilang. Aksesoris lainnya pada Maneki Neko biasanya juga terdapat Logam oval emas seharga 1 Ryo karena pada masa  Edo, satu Ryo mempunyai nilai nominal yang sangat besar, Ada juga patung yang membawa Ikan, biasanya ikan carper karena Ikan ini simbol dari kelimpahan dan rezeki baik.

artforia.com

Yurei, Hantu Tradisional Masyarakat Jepang

Urban Legend Jepang – Yurei adalah sebuah sebutan bagi sosok makhluk halus yang terkenal di cerita rakyat Jepang. Mereka tidak menyebutnya hantu. Namanya terdiri dari 2 kanji yaitu yu yang berarti “samar” sedangkan rei berarti “roh” atau “arwah”. Adapula sebutan lain untuk Yurei, yaitu Borei (arwah yang terpisah), Shiryo (arwah yang mati), dan Yokai, Menurut kepercayaan tradisional, setiap manusia memiliki sebuah roh yang disebut reikon. Ketika seseorang meninggal, reikon akan meninggalkan badan manusianya dan masuk dalam bentuk purgatory (semacam alam roh dimana roh belum bisa pergi ke Surga atau Neraka). Kemudian mereka akan menunggu hingga tubuh mereka dimakamkan secara tepat dan upacara pemakaman dilaksanakan. Setelah itu mereka dapat bergabung bersama nenek moyangnya. Apabila tata cara tersebut terlaksana dengan sukses, reikon akan menjadi pelindung anggota keluarga yang masih hidup dan akan datang setiap bulan Agustus. Inilah sebabnya mengapa diadakan sebuah festival penghormatan yang disebut Festival Obon.

yurei, hantu tradisional masyarakat jepangHal ini termasuk dalam Informasi Budaya Jepang seseorang yang meninggal bisa saja menjadi Yurei dengan kriteria sebagai berikut: Meninggal secara tidak wajar atau karena kasus kekerasan (pembunuhan atau bunuh diri), Upacara pemakaman tidak terlaksana dengan tepat, Terbawa emosi kuat seperti dendam, cinta, cemburu, benci atau berduka.

Perwujudan Yurei secara umum dilukiskan seperti Berkimono putih (Yurei biasanya terlihat mengenakan kimono berwarna putih. Ini adalah sebagai lambang dari pemakaman zaman Edo. Mereka terkadang terlihat mengenakan hitaikakushi, semacam ikat kepala berbentuk segitiga), Rambut hitam (Rambut Yurei umumnya terlihat hitam, panjang dan terurai), Tangan dan kaki (Tangan Yurei terlihat terayun dengan lemas dan kaki mereka tidak terlihat), Hitodama (Kemunculan Yurei biasanya diiringi dengan munculnya Hitodama. Yaitu semacam bola api yang berwarna biru, ungu atau hijau).

Cara paling mudah untuk mengusir Yurei adalah dengan memenuhi keinginannya yang belum terwujud. Alasannya adalah ketika sebuah emosi kuat yang mengikat roh di bumi lenyap, maka Yurei akan melanjutkan perjalanan ke alam baka. Biasanya anggota keluarganyalah yang akan mengemban tugas ini hingga emosi Yurei benar-benar terlampiaskan.

artforia.com

Akira Yoshizawa, Bapak Origami Dunia

Japan Culture –  Origami adalah seni melipat kertas yang dikaitkan dengan budaya Jepang. Di zaman modern seperti sekarang, kata origami biasanya digunakan untuk menjelaskan berbagai macam kegiatan yang berhubungan dengan seni melipat. Tujuan dari origami sendiri adalah mengubah kertas yang datar menjadi berbentuk sesuatu melalui usaha melipat. Lalu siapa sih tokoh yang identic dengan origami ini? Akira Yoshizawa adalah seniman origami Jepang yang dianggap sebagai grandmaster origami. Ia secara luas diakui untuk semua upayanya dalam meningkatkan popularitas origami dari kerajinan menjadi sebuah bentuk seni yang hidup.

Selama hidupnya, Akira telah banyak menciptakan teknik lipat baru. Menurut perkiraannya sendiri, ia telah menciptakan lebih dari 50.000 model origami sejak tahun 1989. Beberapa ratus desainnya disajikan dalam bentuk diagram dalam 18 bukunya. Pada tahun 1983, Kaisar Jepang Hirohito menganugerahinya Order of the Rising Sun, salah satu penghargaan tertinggi yang dapat diberikan kepada warga Jepang. Akira sendiri lahir pada tanggal 14 Maret 1911 di Kaminokawa, Jepang, dari sebuah keluarga peternak. Sejak kecil, Akira sangat menyukai kerajinan origami. Dan ketika mencapai 13 tahun, Akira pindah untuk bekerja di sebuah pabrik di Tokyo. Semangatnya untuk origami hidup kembali di awal 20-an, ketika ia dipromosikan dari pekerja pabrik menjadi juru teknis.

Di tahun 1937, Akira meninggalkan pabrik tempatnya bekerja untuk mendalami ilmu origami. Selama 20 tahun berikutnya, ia hidup dalam kemiskinan yang sangat memprihatinkan. Untuk mencukupi semua kebutuhan hidupnya, Akira menjual tsukudani (bumbu Jepang yang diawetkan, biasanya terbuat dari rumput laut). Akira ikut bertugas sebagai tentara korps medis di Hong Kong selama Perang Dunia II. Ia pun membuat beberapa model origami untuk menghibur para pasien yang sakit, tetapi akhirnya dirinya sendiri yang kemudian jatuh sakit dan dikirim kembali ke Jepang. Karya origaminya cukup kreatif untuk dimasukkan dalam buku Origami Shuko 1944 karangan Isao Honda. Dan karyanya yang terbit dalam majalah Asahi Graph 1951 berhasil meroketkan karirnya. Tak sia-sia, pada tahun 1954 monografi pertama Akira, Atarashii Origami Geijutsu (New Origami Art) diterbitkan. Penerbitan buku ini berhasil memperbaiki standar hidup Akira yang jauh dari kata cukup. Kesuksesannya juga diikuti pendirian Pusat Origami Internasional di Tokyo pada tahun 1954, ketika ia berusia 43 tahun. Akira Yoshizawa pun akhrinya meninggal pada tanggal 14 Maret 2005

artforia.com

Pemakan Kuda Dari Ishikawa Kisah Shio No Choji

Di Jepang, sashimi bukan hanya terbuat dari ikan, tapi ada juga sashimi yang menggunakan daging kuda lho, mereka menyebutnya Basashi Sashimi. Tapi tahukah kalian kalau zaman dahulu kala di provinsi Kaga (sekarang prefektur Ishikawa), ada kisah tentang seorang pria kaya pemilik 300 ekor kuda yang dikenal sebagai Shio no Choji. Kuda-kuda miliknya ini bukan untuk untuk ditunggangi melainkan untuk dimakan. Choji merupakan pecandu rasa daging kuda, dan akan menyembelih kuda-kudanya setiap hari untuk dimakan.

Setiap malam potongan daging kuda itu hanya ia beri garam lalu dimakan dengan sangat lahap. Begitu nafsunya, ia tidak sadar kalau sudah memakan 299 ekor kuda, hingga tersisa kuda tua yang sudah renta. Suatu malam Choji tak tahan lagi, dan ia menembak binatang tua itu, kemudian mengoleskan dengan garam dan memakannya degan rakus. Malam itu, roh kuda yang dimakan Choji datang kepadanya dalam mimpi dan menggigit lehernya.

Sejak malam itu, saat jam tepat menunjukkan waktu ketika Choji membunuh kuda tua itu, roh kuda tersebut selalu datang dan masuk ke tubuh Choji. Roh kuda itu memaksa masuk melalui mulut Choji, lalu merangkak langsung melalui perutnya. Ia hanya bisa berbaring merasakan sakitnya penyiksaan itu, hingga Choji menyesali semua perbuatan jahatnya, tapi penyesalan itu sudah terlambat.

Choji lalu memanggil dokter dan pengusir setan untuk membantu mengatasi penderitaannya. Mereka mencoba segala cara yang mereka bisa tapi tidak kunjung berhasil. Tidak ada obat ataupun mantra yang bisa mengurangi penderitaannya. Siksaan Choji terus berlangsung selama 100 hari sampai akhirnya ia meninggal. Dikatakan bahwa mayatnya rusak dan hancur, seperti kuda yang membawa beban berlebihan.