Seorang Penggemar AKB48 Dituntut Kepolisian Jepang Karena Membuang Ratusan CD Di Gunung

Artforia – Terdapat sebuah kasus yang cukup menghebohkan dunia entertainment Jepang pada saat ini terutama untuk para penggemar AKB48 dimana kepolisian Jepang mengajukan tuntutan terhadap seorang pria di Fukuoka karena telah meninggalkan atau bisa dikatakan membuang lebih dari 500 CD AKB48 di sebuah gunung. Mungkin bagi para penggemar berat AKB48 telah mengetahui kabar ini lebih cepat.

Simak Juga : Inori Minase Dan Saori Onishi Berkolaborasi Membuat Program Youtube

artforia.comGrub musik AKB48, diciptakan oleh produser Yasushi Akimoto pada tahun 2005 lalu dengan rutin selalu mengadakan “pemilihan” pada setiap tahunnya, para penggemar memilih anggota favorit mereka. Mereka yang sangat menginginkan idola favorit mereka tentunya harus berinvestasi dengan membeli banyak album musik AKB dengan mengisi surat voting.

Banyak orang merasa yakin bila orang Fukuoka bukan orang pertama yang membuang ratusan CD AKB48, karena banyak juga para penggemar berat AKB48 yang melakukan ini demi memangkan voting idolanya, menurut banyak netizen juga orang Fukuoka itu tidak cerdas karena dia lupa mengeluarkan label identitas dari kotak kardus tersebut, sehingga kumpulan CD tersebut akhirnya bisa ditelusuri kembali kepadanya.

artforia.comPria 32 tahun itu “mengatakan kepada penyidik kepolisian Jepang ​​bahwa dia tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan benda-benda yang menumpuk tersebut,” menurut Japan Times.

Pada tahun lalu juga terdapat sebuah laporan oleh Buzzfeed Japan menemukan seorang penggemar yang menghabiskan  biaya sebesar $16.000 hanya untuk memilih anggota AKB favoritnya dalam pemilihan 2016. Kami memperkirakan sekitar 1.300 CD, yang, semoga dia juga tidak membuangnya di gunung. Nah bagi para pembaca Artforia yang juga menjadi penggemar AKB48 jangan sampai melakukan hal seperti ini ya! karena tentunya membuang benda secara sembarangan bukan lah hal yang dibenarkan! terutama dalam jumlah yang sangat banyak seperti kasus ini.

Source : Japan Times